Feeds:
Posts
Comments

Obat Herpes

Tramadol 50mg (3×1) anti nyeri, clyndamycin 150mg (3×1) antibiotik – habiskan, acyclovir 400mg (3×1) antivirus, neuroviron (1×1) vitamin b complex, imunos (2×1) suplemen antivirus. Salep zotur cream ( )

Bagi anak-anak, dunia ini adalah tempat bermain. Di setiap waktu dan kesempatan, mereka selalu bermain. Tak terkecuali saat pelaksanaan ibadah. Mereka tetap saja bermain, baik dengan dirinya sendiri, teman-temannya, termasuk disaat orang tuanya sedang beribadah.

Titi dan Indra tengah khusuk  menjalankan sholat. Dede,  anaknya yang kini berumur 1,5 tahun, ikut serta.Saat sujud, Dede naik ke punggung ayahnya. Indra jadi tertahan sebentar untuk segera bangkit dari sujudnya karena takut Dede terjatuh.

Saat berdiri, Dede malah mondar-mandir di depan keduanya. Sajadah yang terhampar pun menjadi berantakan.Konsentrasi keduanya pun  menjadi terganggu. Tapi apa daya,  mereka tak berani memarahi anaknya karena masih kecil.

Ya, namanya juga anak-anak, mereka belum tahu perbuatan yang dilakukannya. Mereka tidak paham bahwa apa yang dilakukannya bisa mengganggu konsentrasi orang tuanya atau orang lain yang sedang beribadah.

Sebaliknya, orang tua kerap menganggap anak menganggu kekhusukan mereka dalam beribadah. Alhasil, banyak orang tua yang  lalu  tidak mengikutsertakan anak ketika melakukan ibadah. Bahkan banyak pula yang lalu melarangnya.

Kejadian seperti ini seringkali juga terjadi pada saat bulan Ramadhan. Ketika waktu  Tarawih tiba, masjid selalu dipenuhi oleh para jamaah, termasuk anak-anak.  Saat orang tua khusuk bertarawih, anak-anak justru saling bercanda dengan sesama temannya. Alhasil, suasanya pun menjadi tidak khusus karena   terdengar  suara anak yang tertawa dan bercanda.

Bagi anak-anak, dunia ini adalah tempat bermain. Di setiap waktu dan kesempatan, mereka selalu bermain. Tak terkecuali saat pelaksanaan ibadah. Mereka  tetap  saja bermain, baik dengan  dirinya sendiri, teman-temannya, termasuk  disaat orang tuanya sedang beribadah. Tindakan melarang anak ikut beribadah dengan alasan  menganggu kekhusukan, tentu bukan sebuah langkah bijaksana. Ini sama saja dengan menjauhkan anak dari kehidupan beragama.

Berikan informasi
Ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan ketika mendidik anak beribadah. Pertama, berikan informasi yang jelas dan benar mengapa kita perlu beribadah. Informasi yang diberikan tersebut  meliputi semua hal yang menyangkut tentang agama. Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak.

Pada tahap ini orang tua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Termasuk dalam hal ini adalah sabar manakala anak sudah mau diajak shalat, misalnya,  namun ternyata dia bermain sendiri dan mengganggu pelaksanaan ibadah orang tuanya. Jangan memarahi anak. Berilah penjelasan kepada anak mengapa kita perlu khusuk ketika menjalankan shalat. Ajaklah anak untuk berpikir sesuai dengan kemampuannya tentang masalah ini.

Pemberian hadiah  barangkali bisa dicoba untuk mendidik anak agar khusuk dalam beribadah. Jika  anak kita  tidak mengganggu pelaksanaan ibadah kita, maka dia mendapat penghargaan atau hadiah. Tentu  hadiah ini disesuaikan dengan usia anak. Dengan hadiah ini, anak akan terpacu untuk tertib dalam menjalankan ibadah dan tidak mengganggu orang lain.

Namun ini tetap perlu diikuti dengan penjelasan kepada anak tentang pentingnya menjaga kekhusukan. Sebab jangan sampai motivasi anak terbalik menjadi hanya ingin mengejar hadiahnya saja  sehingga dia menjadi khusuk.

Pendidikan anak

Memberi pengertian kepada anak tentang makna ibadah merupakan sebuah proses pendidikan. Ini perlu dilakukan sejak dini dan disesuikan dengan umur anak. Menurut Ustadz Ihsan Tanjung, ada  tiga tahap pendidikan anak dalam padangan Islam. Yaitu tahap bermain yang , dimulai dari usia 0 sampai kira-kira 7 tahun. Selanjutnya tahap penanaman adab atau disiplin, yaitu dari usia  7 – 14 tahun. Dan terakhir, tahap persahabatan,  yaitu saat anak berusia 14 tahun ke atas. “Di usia seperti ini, mereka perlu didekati dengan pendekatan dan menjadikan anak sebagai sahabat,” ujarnya seperti dikutip situs keluarga sehat.com.

Dijelaskan Ihsan Tanjung, ada lima  macam metode pendidikan dalam agama Islam. Yaitu  melalui keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat atau pengarahan, melalui mekanisme kontrol, dan melalui hukuman sebagai pengamanan terhadap hasil-hasil proses pendidikan tersebut.

Metode tersebut di atas adalah berdasarkan ajaran agama Islam. Tetapi, tentu saja, setiap agama pun memiliki pedoman tersendiri dalam menanamkan pendidikan agama sejak dini. Agama Kristen, misalnya, memiliki program sekolah minggu yang didalamnya terdapat pendidikan pendalaman agama pada anak.

Dalam hal pendidikan agama, –terlepas apapun agamanya– hal terpenting  yang perlu diperhatikan orang tua adalah menanamkan akidah kepada anak-anak. Hal ini sangat penting karena orangtualah yang sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. PG


Belajar Mengenal Tuhan
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak belajar mengenal Tuhannya. Ini bisa dilakukan sejak anak masih di dalam kandungan. Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Tuhan. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada-Nya.

Jika anak bisa memahaminya dengan baik,  maka akan tumbuh sebuah kesadaran untuk senantiasa mengagungkan Tuhan dan bergantung hanya kepada-Nya.  Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Tuhan sehingga akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai-Nya. Tidak kalah penting adalah menanamkan nilai-nilai tentang berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya.

(Sumber : http://www.parentsguide.co.id/dsp_content.php?kat=3&pg=atg&&emonth=10&eyear=2007)

Bermain Bola, Yuk!

Ketika usia batita Anda memasuki angka 1,5-2 tahun, seharusnya dia sudah bisa berlari, bahkan naik tangga. Semua aktivitas yang dijalaninya bermuara pada latihan koordinasi. Salah satu permainan yang bisa mendorongnya untuk berlatih koordinasi adalah lempar-tangkap bola.

Aldi (1,5 tahun) terlihat antusias ketika Risma (29 tahun) ibundanya melemparkan bola karet berwarna biru ke arahnya. Hup..hup..dengan semangat Aldi menangkapnya, lalu melemparkan bola tersebut ke arah mamanya. ‘’ayo lempal maa…lempal..,’’katanya seolah tak sabar ingin menerima bola dari sang mama.

Kegembiraan Aldi mungkin akan dirasakan pula oleh buah hati Anda. Ya, pada anak seusia Aldi, permainan yang dianggap paling menyenangkan adalah bermain lempar dan tangkap bola. Pendapat tersebut diamini oleh dr. Lindana Sastra, SpA, dokter spesialis anak, Brawijaya Women and Children Hospital, Jakarta. Tak hanya menyenangkan, ternyata main lempar-tangkap bola pun mengandung sejumlah nilai positif. ‘’Manfaat permainan lempar-tangkap bola adalah koordinasi tangan dan mata. Dalam aktivitas ini, kontak dengan ibunya juga tetap terjaga karena batita harus melempar, sementara ibunya harus menerima bola tersebut,’’katanya.

Apalagi, saat usia batita Anda memasuki angka 1,5-2 tahun, seharusnya si kecil sudah bisa berlari, bahkan naik tangga. Semua aktivitas yang dijalaninya tersebut bermuara pada latihan koordinasi. Nah, salah satu permainan yang bisa mendorongnya untuk berlatih koordinasi adalah lempar-tangkap bola.

Perlu disadari, bermain adalah pekerjaan batita. Layaknya,  orang dewasa yang disibukan dengan  pekerjaan tertentu untuk mengisi rutinitas hariannya, begitu pula batita. Nah, satu-satunya ‘kesibukan’ si kecil  adalah bermain. Sambil bermain batita akan belajar banyak hal di sekitarnya, sekaligus melatih otot-otot motoriknya.

Bermain lempar-tangkap bola
Sebenarnya permainan ini cukup sederhana lho. Bahkan, bermain lempar-tangkap bola bisa juga dilakukan di lantai sambil duduk. Ajari saja batita Anda bagaimana melempar bola dengan benar di atas lantai. Agar tidak bosan, sesudah itu ajak si lucu  bermain lempar-tangkap bola di ruang terbuka dengan cara berdiri. ‘’Semua cara perlu dicoba. Tapi sebaiknya pilihlah bola yang ringan, tidak merusak kulit, dan pastikan pula bahannya aman bagi si kecil.,’’ kata dr Lindana. Selama anak memainkan jenis permainan ini, lanjutnya, orang tua harus ikut aktif.

Kalau Anda melihat sang buah hati sudah mulai berguling-guling, maka sediakan matras. Sehingga saat ia  asyik berguling, si mungil tidak terantuk lantai.

Menendang bola
Selain lempar-tangkap bola, permainan lain yang baik dilakukan untuk melatih kemampuan syaraf motorik batita  adalah bermain sepak bola. Batita sangat menyukai permainan ini. Bahkan, lama sebelum dapat bermain lempar-tangkap bola, sebenarnya  anak-anak batita telah  menyadari kaki-kaki mereka bisa dimanfaatkan untuk menendang bola.

Dengan menendang bola batita Anda berlatih memperkuat otot-otot matanya,  karena saat menendang bola mata si kecil akan mengikuti ke mana bola bergerak, dan sekaligus membangun koordinasi. Menendang bola juga membantu memperkuat otot-otot kaki si kecil dalam mempersiapkan untuk berjalan, berlari, melompat, loncat-loncat, dan mendaki.

Mencuci baju
Selain sepak bola batita Anda juga bisa diajak main ‘bola basket’. Hanya saja, ini bukan 100% permainan bola basket pada umumnya. Melainkan, menggunakan keranjang cucian sebagai ‘basket’-nya. Caranya,  mintalah si kecil duduk atau berdiri dekat dengan keranjang pakaian yang kosong. Tunjukkan caranya memasukkan bola ke dalam keranjang, lalu biarkan dia mencobanya sendiri. Anda bisa membantunya dengan memegang keranjang pakaian dan bergerak ke arah lemparan bola si kecil agar bolanya bisa masuk keranjang. Permainan ini bagus untuk membantu mengembangkan koordinasi tangan dan mata.

Selain dengan cara tadi,  Anda pun bisa meletakkan keranjang cucian dekat sofa, lalu biarkan si kecil bermain ‘memasuk-masukkan’ bola ke dalam keranjang. Atau, ketika sedang melipat cucian, gulungkan sepasang kaos kaki ke bola. Setelah itu, berikan ke si lucu dan mintalah ia untuk melemparkannya ke dalam keranjang. Kalau masuk, berikan tepuk tangan dan pujian.

Bola gelinding
Permainan bola lainnya yang tak kalah menyenangkan  adalah dengan cara menggelindingkannya. Seperti bermain bowling. Jika siap mengajaknya bermain bola gelinding, cari sebuah bola plastik atau karet. Ciptakan jalur antara Anda dan si kecil. Sampaikan padanya bahwa dirinya harus bisa mengarahkan bolanya ke antara dua kaki Anda, atau dua tumpuk buku, atau sepasang kardus.

Namun, jangan kaget bila kebanyakan batita lebih mudah melempar daripada menggelindingkan bolanya. Menggelindingkan bola membutuhkan lebih banyak fokus dan kontrol. Karena itu, tunjukkan cara menggelindingkan bola dengan cara mendorong bolanya dengan dua tangan.

Menggelindingkan dan menangkap bola membantu batita Anda mengembangkan koordinasi tangan dan mata. Skill penting  ini diperlukan tidak hanya untuk melempar dan menangkap. Lebih dari itu, nantinya anak akan terampil makan, menggambar, dan menulis.

Nah, sekarang kita ajak si kecil main bola, yuk! PG


Tetap beri pujian
Meski Anda berharap selain menyenangkan, si kecil tanggap memainkan permainan bola ini, jangan mematok target tertentu. Artinya, jangan sampai Anda terkesan  memaksa si kecil agar mampu melakukannya sesuai dengan harapan Anda. Perlu diingat, ada kalanya anak-anak memiliki bad mood, terutama saat  lapar, dan mengantuk. Nah, dalam kondisi ini, jika dipaksakan, kemampuan si kecil tidak akan berkembang optimal. Selain itu, sifat negatifnya akan lebih cepat muncul dibanding batita seusianya.Tak kalah penting, janganlah pelit dalam memberikan pujian. Biarkan si kecil merasa tenang dan senang melakukan ‘pekerjaan’nya. Pujian Anda pun dapat membangun rasa percaya dirinya. PG

“Aku TIDAK MENCURI!”

Memalukan deh, tiap kali pulang dari rumah tetangga, si kecil selalu bawa oleh-oleh mainan. Pasti dia mengambilnya begitu saja tanpa izin.

Coba deh periksa boks mainan batita Anda. Pasti akan Anda temukan sejumlah mainan “asing” yang bukan miliknya. Bukan cuma itu, Anda juga bakal menemukan benda-benda lainnya, entah lipstik atau bolpoin yang hilang beberapa waktu lampau, dan sebagainya.

Ini memang perilaku khas anak batita. Kemunculannya disebabkan dorongan rasa ingin tahu (curiosity) pada sesuatu yang dia lihat atau orang lain pakai. Saat anak lain memainkan robot-robotan, misal, si batita penasaran dan ingin memainkannya juga, meski di rumah sebenarnya dia memiliki mainan tak kalah bagus.

Selain itu, anak mulai senang mengenali dan menggali hal­hal di lingkungannya. Inilah yang memunculkan sikap ingin mencoba hal-hal baru atau benda yang sama sekali belum dikenalnya. Tak heran, telepon genggam, lipstik, gunting, dan aneka benda lain dalam sekejap sudah ada dalam genggamannya.

Karenanya, psikolog Sani B. Hermawan tak setuju bila orangtua memarahi si batita, apalagi sampai mengatakan dia telah mencuri barang milik orang lain. “Anak batita belum tahu mengenai hak milik. Dia menyangka semua benda yang ada adalah miliknya dan untuknya,” ujar Direktur Lembaga Psikologi Daya Insaniini.

Namun, bukan berarti kita boleh membiarkannya begitu saja. Justru ini bisa menjadi gerbang bagi orangtua untuk mengajari anak norma-norma sosial yang berlaku, sekaligus aturan boleh-tidak. “Anak harus diberi tahu tentang hak milik. Ada barang milik dia, milik ibu, ayah, bahkan teman-temannya. Hak itu harus dihargai. Berikan contoh dengan logika terbalik, ‘Kamu mau tidak barangmu diambil temanmu tanpa bilang?’ Jelaskan juga, ada etika meminjam, seperti meminta izin terlebih dahulu.”

Jadi, ajarkan etika meminjam. Pada tahap awal, tentu anak perlu diawasi dan diberi pemahaman tentang apa yang boleh dan tak boleh dilakukan terhadap barang tersebut. Durasinya pun singkat, artinya barang itu harus cepat dikembalikan. Barulah setelah anak dapat bertanggung jawab, dia perlu diberi kepercayaan dan durasinya boleh agak lama, tentunya atas seizin si empunya.

Selain itu, ingatkan anak agar memelihara barang milik orang lain dan tidak merusaknya. Hal ini untuk membentuk sikap menghargai. Selanjutnya terang-kan, barang itu adalah barang orang lain yang harus dikembalikan. Jangan lupa untuk menga-jarkan terima kasih pada saat mengembalikan.

Jika anak ngambek tak mau mengembalikan, orangtua perlu menjelaskan hak dan kewajiban dengan sederhana, bahwa barang itu bukan barang miliknya (hak), dan kewajibannyalah untuk mengembalikan secara baik-baik. Tanyakan, apa yang membuatnya sangat tertarik pada benda tersebut. Di rumah, ajak dia mencari benda miliknya yang mirip dengan barang/mainan kepunyaan temannya itu. Dengan demikian, anak tak terlalu merasa kehilangan jika mainan temannya dikembalikan. Walaupun bereaksi sedih, anak harus dituntun untuk mengembalikan benda pada orang yang meminjamkan.

Di sisi lain, anak pun harus diajarkan menghargai barang miliknya. Kalau tidak, mungkin saja ia menyenangi barang orang lain tetapi tidak menghargai barang miliknya. Sikap ini cenderung mendorongnya untuk selalu merebut milik orang lain. Atasi dengan mengembalikan rasa bangga pada diri anak terhadap benda-benda miliknya. Caranya, kenalkan hal-hal positif dan kelebihan dari mainannya. Entah itu robotnya yang bisa bergerak, bersuara, atau bonekanya yang lucu.

Jika ada barang yang tak boleh dimainkan, berikan penjelasan dengan baik. “Adek tidak boleh memainkan barang ini karena kalau jatuh dan pecah, Ibu tidak dapat memakainya lagi.” Dengan demikian anak bisa memahami dan sekaligus mendapat informasi yang memuaskan. Jika anak tidak patuh pada aturan, membandel, dan tak mau dinasihati, jelaskan secara perlahan dan berulang sampai ia paham.

AJARKAN BERBAGI

Tahap selanjutnya, anak bisa diajarkan berbagi. Jika dia biasa meminjam mainan temannya, maka mainan miliknya juga boleh dipinjam orang lain. Agar pesan kita mudah ditangkap, cobalah cari contoh lain yang akrab dengan anak. Bisa berupa makanan, buku bergambar, bacaan, dan lain-lain. Mulailah dari anggota keluarga terlebih dahulu. Saat anak hendak mengambil pulpen milik ayah, jelaskan dia harus meminta izin terlebih dahulu, plus mengucapkan terima kasih saat mengembalikan.

Selain itu, jadilah teladan buat anak. Ajarkan bagaimana menghargai hak milik orang lain. Contoh, saat melihat kue lezat si kecil terhidang di meja, jangan sekali-kali mengambilnya tanpa izin. Ingat, kue itu milik anak yang harus dihargai. Mintalah izin dan jangan memaksa mengambil jika anak tak mengizinkan. Hal lain yang perlu diingat, jangan sekali-kali menyerahkan mainan atau benda milik anak kepada anak lain tanpa seizinnya. Itu tidak hanya melukai anak, tapi juga mengajarinya untuk tidak menghargai hak milik orang lain. Jangan lupa, anak belajar dari apa yang dilihat dari orang terdekatnya. Jika Anda sering melanggar hak orang lain, jangan harap anak bisa menghargai kepunyaan orang lain.

Saeful Imam. Foto: Iman/NAKITA

“Mama JAHAT!”

Ini merupakan ekspresi sehat dan wajar. Orangtua hanya perlu mengendalikan.

“Mama jahat!” ungkapan yang singkat tapi dalam. Ibu mana yang tidak terperangah mendengarnya. Ada yang langsung marah, tapi ada pula yang kemudian cuek. Anda termasuk yang mana? Mungkin yang lalu terpikir adalah, kok bisa-bisanya si cilik mengucapkan kata-kata itu dengan entengnya.

Itulah komunikasi provokatif; demikian beberapa pakar psikologi perkembangan menyebutnya. Komunikasi itu tidak hanya menjengkelkan, tapi juga memalukan. Bayangkan saja jika kata-kata ajaib itu meluncur di depan orang banyak. Singkat kata, komunikasi provokatif

merupakan bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal yang memancing emosi, tidak sopan, tidak pantas, tidak senonoh, dan bahkan menyakitkan. Bentuk komunikasi ini sebenarnya sudah ada sejak bayi lahir. Bagaimana bayi menangis sambil menjerit demi menuntut keinginannya dipenuhi, itulah komunikasi provokatif.

Di usia batita, kata “tidak” atau “enggak” adalah kata provokatif pertamanya. Anak senang bereksperimen dengan kosakata yang baru dikuasainya. Apa pun yang dikatakan orang-tua, anak senang mengatakan “tidak”. Terlebih, saat orangtua melarang atau meminta anak melakukan sesuatu. Jika ucapan tidak mempan, anak pun mencari jalan lain yang lebih “keras”, dengan harapan kemauannya dituruti seperti memukul, menggigit, menendang, menarik-narik baju, dan lainnya.

WAJAR TAPI TAK BOLEH DIBIARKAN

Komunikasi provokatif muncul karena di satu sisi anak memiliki hasrat dan emosi yang kuat, sedangkan di sisi lain anak tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Selain itu, di usia ini juga anak sangat egois dan cenderung memaksakan kehendak. Apalagi, jika orangtua terlalu banyak melarang, sebentar-sebentar “tidak boleh” atau sedikit-sedikit “jangan”. Anak pun kesal sehingga keluarlah jurus komunikasi provokatifnya. Sebab lain munculnya komunikasi ini adalah anak merasa terbuang, semisal tak diajak jalan-jalan ke mal karena sedang sakit, atau merasa malu karena dimarahi orangtua di depan kawan-kawannya.

Sebenarnya, komunikasi ini wajar dilakukan sebagai bagian dari perkembangan emosi anak. Emosi yang tersalurkan lebih sehat ketimbang emosi terpendam. Itulah mengapa, komunikasi provokatif adalah ekspresi sehat. Sayangnya, penyaluran emosi tersebut dilakukan dengan cara yang tidak tepat, yaitu menge-luarkan kata-kata kasar/tak pantas dan kekerasan fisik. Jadi, meski komunikasi provokatif tergolong wajar di usia batita, orangtua tetap harus mengarahkan, bagaimana berekspresi yang sehat yang lebih dapat diterima lingkungan (acceptable behaviour).

Selain itu, anak usia batita belum mengerti apa yang dia katakan, semisal “mama goblok”, “mama jahat”, “anjing lu”, dan sebagainya. Umumnya, mereka mendapatkan kata-kata itu dari lingkungan di sekitarnya, seperti orang dewasa di rumah maupun di luar rumah dan tontonan di televisi. Anak melihat, saat kesal, orang dewasa mengucapkan kata-kata tersebut. Anak pun menirunya, karena dipikirnya kata-kata itulah yang harus dia ucapkan di kala hatinya sedang kesal/marah. Begitu pun dengan perilaku provokatif seperti menjambak, memukul, mencubit, dan sebagainya. Sekali lagi, meski wajar, komunikasi dan perilaku pro-vokatif tak boleh dibiarkan. Anak harus diberi pengarahan untuk mengungkapkan diri dengan cara yang enak.

Ragam Komunikasi PROVOKATIF dan MENGATASINYA

* Komunikasi Provokatif Fisik

Bentuknya bermacam-macam, bisa meludah, memukul, menjambak, menggigit, dan lain-lain. Sedapat mungkin, cegahlah agar tindakan itu jangan sampai dilakukan. Jadi, saat anak hendak meludah karena pandangannya ke teve terhalang, misal, cobalah jelaskan, “Adek sebaiknya mengatakan ‘permisi, Mama, aku tidak bisa lihat’. Nah, Mama kan jadi tahu kalau kepala Mama menghalangi pandangan Adek ke teve.”

Hindarkan sikap reaktif karena bisa membuat anak semakin giat mengulangi perilaku negatifnya. Jelaskan, tempat yang tepat untuk meludah seperti, “Adek boleh meludah sepuasnya di kamar mandi.” Berikan pujian jika anak sudah menghilangkan kebiasaan buruknya itu, “Hari ini Adek hebat. Adek tidak menggigit Reza meskipun dia mengambil mainanmu.” Jangan lupa, jelaskan ekspresi yang tepat selain menggigit, “Lebih baik Adek bilang, ‘jangan ambil, ini mainanku’ kepada temanmu yang akan mengambil mainanmu dengan paksa.”

Hindarkan pula membalas dengan hukuman fisik atau kekerasan fisik yang sama. Mungkin saja anak menghentikannya, tapi itu hanya sementara dan dengan alasan takut. Nantinya, bukan tak mungkin komunikasi provokatif fisik ini muncul kembali.

* Perilaku Mengesalkan

Si kecil menjerit “mau es krim” sambil melempar-lempar mainannya ke hadapan Anda, atau berteriak “pulaaang”, sambil menarik-narik baju Anda, dan sebagainya. Dia berharap, teriakan dan jeritan dapat membuat keinginannya terkabul. Ingat, anak batita selalu menginginkan hasil instan. Jika dia menginginkan sesuatu, maka hal itu harus terkabul sekarang juga, tak bisa ditunda sedetik pun. Ini juga berlaku saat anak butuh perhatian orangtua.

Si batita harus diberikan pengertian, mengapa keinginannya tak bisa dipenuhi segera atau harus ditunda. Contoh, “Adek mau es krim? Oke, setelah makan nasi, Adek boleh makan es krim.” Selain itu, ketahui juga penyebab kekesalan anak. Misal, anak minta pulang saat diajak pergi arisan. Mungkin dia bosan karena kita asyik mengobrol sementara si kecil terabaikan. Nah, kita perlu mencari cara agar anak tidak bosan, entah dengan membawakan mainannya, atau mengenalkan si kecil dengan teman-temannya sebaya.

* Komentar Marah

Anak bisa meluapkan emosinya dengan kata-kata, misalnya saja “Mama jahat”, “Mama bodoh”, atau bahkan dengan kata-kata kasar/tak senonoh. Hal ini bisa dilakukan kepada siapa pun, baik orangtua maupun orang dewasa lain, saudara, bahkan teman-temannya. Namun ingat, anak belum paham sepenuhnya arti kata-kata tersebut. Dia hanya sekadar meniru tanpa menyadari apa yang dikatakannya itu boleh atau tidak. Jadi, tak guna memarahinya. Lebih baik tenangkan anak dan jelaskan mengapa kita tak bisa mengabulkan keinginannya, “Adek, sekarang sudah larut malam. Di luar dingin dan gelap. Jadi kita tidak bisa main di luar, Lagi pula, sekarang sudah waktunya tidur.” Kemudian alihkan perhatiannya dengan mengatakan, “Yuk, kita masuk ke kamar. Mama akan bacakan cerita untukmu. Ceritanya bagus lo.”

Bila komentar marah ini dilontarkan kepada temannya yang mencoba merebut mainannya, “Enggak boleh. Goblok!” misalnya, sebaiknya angkat anak menjauh dari si teman dan tegurlah dengan lembut, “Adek enggak boleh berkata seperti itu. Itu kata-kata kasar.” Cara ini bisa menjaga perasaan anak di depan temannya. Kemudian ajarkan cara yang lebih tepat, “Kalau temanmu akan merebut mainanmu, katakan saja, ‘Enggak boleh, ini punyaku.’”

* Uring-uringan

Sikap dan perilaku anak benar-benar membingungkan. Begini salah begitu salah. Tidak tahu apa maunya. Orangtua jadi jengkel dan tak jarang langsung memarahi anak. Sebenarnya, anak sedang menguji orangtua. Perhatian orangtua yang dicari, bukan kemauannya dipenuhi. Sangat mungkin anak ingin tidur dan mengantuk, tapi dia ngelantur dengan meminta dibuatkan susu. Saat dibuatkan susu, dia rewel dan meminta yang lain.

Orangtua harus peka. Perhatikan, apa sebenarnya yang dimaui anak. Jika dia terlihat lelah dan mengantuk, coba abaikan permintaannya yang macam-macam, tapi usap dan gendonglah. Berikan kenyamanan sehingga dia lelap tertidur.

Saeful Imam. Ilustrator Pugoeh

Konsultan ahli:

Mira D. Amir, Psi.,

dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia

(Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=09422&rubrik=batita)

oleh Rinda Arsianah (dikutip dari http://www.eramuslim.com/oase-iman/satu-dari-banyak-kesetiaan.htm)

Menikah dengannya adalah pelajaran keikhlasan. Menerimanya disembilan tahun yang lalu adalah sebuah berkah bakti yang kutujukan padaNya. Memenuhi amanah yang tidak hanya menjadi istri baginya tapi juga menjadi ibu bagi anak-anaknya bahkan menjadi manager setia dikehidupan keluarganya adalah sebuah kesyukuran tiada tara.

Tak menyesal ketika sampai diakhir hayatnya aku sanggup mendampinginya, karena mendampinginya adalah sebuah hadiah yang luar biasa. Mendampinginya dalam do’a, ikhlas dan kesabaran adalah hadiah terindah yang pernah aku miliki.

Penyakit yang ia rasakan seperti merasuk dalam tubuh dan jiwaku. Aktivitas berpindah dari dokter satu ke dokter lainnya, berpindah dari rumah sakit ternama, terkenal sampai tersederhana pernah aku jalani bersama. Aku lakukan dengan satu alasan, bahwa aku ingin bersamanya lebih lama. Walaupun, aku menyadari semua akan kembali berpulang kepadaNya.

Tak lepas do’a dibarisan detikku, tak lepas hapusan airmata yang kuderai dimalam heningku, hanya untuk meminta padaNya, biarkanlah aku merawatnya lebih lama, biarkanlah aku tetap mengusap wajah teduhnya disetiap akhir sujudku, biarkanlah aku mendo’akannya lebih lama hingga dihati ini cuma ada sabar dan sabar, biarkanlah ia merasai rasa bahwa aku masih tetap mencintainya dan aku benar-benar memberi bakti untuk mencintainya. Bilapun bisa, jadikan aku pendamping pertama yang menyaksikan kepergiannya dalam hidup dan senyum terakhirnya.

Menerimamu dalam sakitmu adalah cara Allah mencintaiku. Menerimamu dalam sakitmu adalah cara Allah memberi pelajaran berharga. Menerimamu dalam sakitmu adalah cara Allah agar aku lebih dekat denganNya. Aku memang bukan wanita sholihah yang sama seperti kisah yang pernah kudengar dari semua Ustadz, ustadzah yang ada di TV ataupun dipengajian yang pernah dan sering aku ikuti. Aku tidak mungkin bisa dibandingkan dengan wanita yang pernah kau ceritakan padaku, tentang wanita yang mampu menjadikan anak-anaknya sebagai seseorang yang terkenal, tapi aku hanya mampu menjadikan anak-anakmu sebagai pengantar do’a khusus untukmu dalam setiap sujud mereka. Aku juga bukan wanita berjilbab rapi seperti yang pernah kau sampaikan padaku ketika kau bertemu keponakan perempuanku disembilan tahun yang lalu. Tapi aku adalah aku, wanita yang belajar mencintaimu disejak menerimamu sebagai pendamping jiwaku. Dan akupun hanya mampu membuktikan baktiku dipendampinganku selama ini.

Melepasmu diwaktu adzan jum’at itu membuat aku tak pernah percaya. Melepasmu dalam tenang dan teduh wajahmu membuat aku ingin tetap mengusap wajah ramahmu. Melepasmu setelah sembilan tahun kebersamaan adalah tak sanggup aku lakukan. Tapi, apa yang mampu aku lakukan, kecuali aku mengingat bahwa segala sesuatu akan diambil oleh Sang empunya. Apa hakku hingga aku ingin menghalangi, karena aku pun ada yang memiliki dan akupun akan kembali padaNya tanpa aku tahu kapan dan dimana.

Di setiap detik hari inipun aku masih mencatat dengan rapi, bahwa menerima dan melepasmu adalah hadiah terindah. Jikapun setia ini adalah satu dari banyak kesetiaan, maka inilah yang mampu aku lakukan, dan aku berharap inilah hadiah terbaik yang pernah aku berikan untukmu selama mendampingimu hingga keberkahan Allah menjadi lapangan hijau yang penuh kebaikan untuk aku dan anak-anak yang kau amanahkan ditanganku.

Karena diantara semuanya, aku ingin selalu mengungkapkan permintaan hatiku agar dapat selalu mendampingimu.

(Sebengkok AL, Tarakan)

Sumber : http://mutoha.blogspot.com/

gmc1g1
Tahapan GMC (Image: Robert Allen)

Peristiwa alam langka Gerhana Matahari kembali akan terjadi nanti pada Senin, 26 Januari 2009 yang akan datang. Gerhana yang secara kebetulan bersamaan dengan libur Perayaan Imlek ini merupakan tipe Gerhana Matahari Cincin atau Gerhana Matahari Anular. Saat itu daerah yang dilewati jalur gerhana akan menyaksikan Matahari berbentuk cincin dengan lobang gelap di tengahnya karena tertutup oleh Bulan. Saat gerhana terjadi nanti hanya sekitar 8% saja wajah Matahari yang terlihat sehingga suasananya akan nampak lebih gelap. Seluruh kawasan Indonesia dapat menyaksikan peristiwa ini walaupun di beberapa tempat hanya berupa gerhana sebagian.

..Peta Interaktif Gerhana Matahari Cincin 2009
.
Jalur GMC kali ini akan dimulai pagi hari dari kawasan Lautan Atlantik Selatan kemudian menuju Samudra Hindia hingga siang hari. Menjelang sore hari jalur gerhana akan melewati Propinsi Lampung, sebagian Sumatera Selatan, Selat Sunda, Propinsi Banten, Pulau Bangka-Belitung, Laut Jawa dan melintasi Pulau Kalimantan hingga akhirnya berujung di Laut Sulawesi saat Matahari terbenam. Titik Puncak Gerhana yaitu saat seluruh piringan Bulan menutup permukaan Matahari paling lama akan terjadi di tengah Samudera Hindia yaitu selama 7 menit 54 detik pada pukul 07.58 GMT. Gerhana Matahari Cincin kali ini juga akan menjadi istimewa karena hanya akan melewati daratan Indonesia saja. Jalur Gerhana
.
Cara aman menyaksikan gerhana
.
Di Pulau Jawa sendiri kecuali di sekitar Banten, proses gerhana hanya akan dapat disaksikan berupa Gerhana Matahari sebagian yang artinya piringan Matahari tertutup sebagian oleh piringan Bulan sehinga bentuknya menyerupai sabit. Di Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Solo, Semarang serta beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur akan dapat menyaksikan gerhana mulai sekitar pukul 15.30 WIB saat kontak awal yaitu ketika piringan Bulan mulai menyentuh piringan Matahari. Saat maksimum gerhana terjadi pada sekitar pukul 16.40 WIB dan gerhana akan berakhir pada sekitar pukul 17.45 saat kontak akhir yaitu piringan Bulan meninggalkan piringan Matahari.
.

Gerhana Matahari 26 Januari 2009 terlihat dari Yogyakarta
[Untuk daerah lain dapat dilihat di sini ]
.
Bagi umat Islam saat gerhana terjadi disunahkan mendirikan shalat gerhana dan masyarakat umum yang berminat menyaksikan seluruh tahapan Gerhana Matahari Cincin ini harus berhati-hati. Jangan sekali-kali menatap Matahari secara langsung karena dapat membutakan mata. Untuk menyaksikan harus menggunakan peralatan khusus yang dapat melindungi mata. Penggunaan kacamata filter khusus Matahari sangat disarankan, namun jika tidak ada bisa menggunakan kacamata las, klise film, cakram disket, atau keping VCD bekas sebagai alternatif penapis cahaya. Penggunaan pantulan air tidak disarankan. Cara yang paling aman adalah menggunakan metode proyeksi yaitu melewatkan cahaya Matahari melalui lobang kecil pada kertas dan menangkap bayangannya.
.
Gerhana Matahari Cincin kali ini merupakan seri Saros 131 anggota ke-50. Selama tahun 2009 sendiri di seluruh dunia hanya akan terjadi 2 kali Gerhana Matahari dan 4 kali Gerhana Bulan. Gerhana matahari berikutnya adalah total terjadi pada 22 Juli 2009 yang akan melewati daratan India, Nepal, Bhutan dan Tiongkok.

Selamat Idul Fitri

Assalamu’alaikum

Kami Sekeluarga meminta maaf sekiranya selama berinteraksi ada salah dan khilaf.
Semoga Ramadhan 1429 menjadi ramadhan terbaik kita dan terus teraplikasi dalam kehidupan berikutnya.

dan kamipun turut mengucapkan:

Selamat Idul Fitri 1429 H

Taqabbalallahu minna wa minkum
Shiyamana wa Shiyamakum
Minal Aidin wal Faidzin
Kullu ‘Aam wa antum bikhoir

Wassalam

Kami sekeluarga
Rivai-Fitri-Hanif

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.